Oleh: Isbaria TRL
Remaja
itu berbaring, sesekali duduk bersandar di atas tempat tidurnya sembari
menumpukan kedua sikunya pada bantal berbahan dakron. Namun, hari ini lebih
sering ia berbaring ketimbang duduk. Sesekali ia tertawa lepas, menangis
terharu, atau mata melotot berdecak kagum dengan mulut menganga. Tanpa terasa,
waktu telah menunjukkan pukul dua lewat empatpuluh enam menit sedang ia belum
menunaikan shalat zhuhur.
Sementara,
android bermerek dan bertipe baru sudah terasa panas di genggamannya. Sejak
pukul delapan tadi pagi, barang tipis dan berbentuk persegi panjang itu tidak
pernah terlepas dari pantauannya. Membaca pesan di beberapa grup whatsapp,
melihat status whatsapp, atau sekedar mengecek pemberitahuan akun facebook-nya
atau ber-stalking ria. Mulai dari akun instagram artis atau selebgram
yang dikaguminya sampai toko-toko online yang menjual busana hingga
makanan elit gandrung anak-anak muda kalangan mahasisiwa namun, tetap dengan
harga terjangkau.
Sesaat
kemudian, ia langsung berdiri tegak. Melepaskan androidnya. Meluruskan
persendian-persendian yang kaku dan kikuk karena dibiarkan tanpa bergerak
selama berjam-jam. Lintang, roommate-nya yang dari tadi hanya diam dan
membaca buku Kitab Penyihir Aksara karya Brili Agung pun hanya geleng-geleng
dan menatapnya tajam. Yang ditatap tajam hanya tersenyum dan terkekeh-kekeh
berjalan ke arah dapur asrama, menuju kamar mandi, lalu berwudlu.
“Apakah
liburan ini benar-benar hanya ingin diisi dengan hal-hal seperti tadi?” yang
ditanya hanya mesem-mesem di sebelah sahabatnya sejak SD itu. “Kalau begitu,
akan sungguh rugi dan engkau akan menyesal nantinya, Mar.” Lintang masih
menasehati Marfu’ah, sahabat seperjuangan dan seperantauannya di kota pelajar,
Yogyakarta. “Katanya, mau jadi penulis terkenal, menulis kan upaya menuangkan
kata para penulis hebat di buku-buku itu. Sedangkan kegiatan menuangkan itu
haruslah ada kegiatan mengisi sebelumnya. Kegiatan mengisi itulah dengan
membaca, Marfu’ah binti Abdullah.” Sahabatnya masih menasehati dengan lemah
lembut. Yang dinasehati masih menyimak sembari membaca chat masuk dari
aplikasi whatsapp itu.
Marfu’ah
tahu dan sadar, apa yang disampaikan Lintang, sahabatnya, itu memang benar dan
tepat. Tapi keasyikan bermain ria dengan android baru sebagai hadiah
ulangtahunnya yang ke-20 dari pamannya itu tak bisa tertahankan. Sesekali ia
melepas benda itu dari tangannya, tapi waktu luang selama liburan semester dua
itu lebih banyak ia habiskan bersama benda persegi panjang itu. Hari ini aku
harus menamatkan buku ini, niatnya dalam hati. Banyaknya istilah-istilah yang
sulit ia pahami dari buku penunjang perkuliahan itu mendorong Marfu’ah mencari maksudnya di google. Tak urung,
berbelot juga ia ke situs web lain yang bukan tujuan semula ia menggunakan
android itu lagi.
“Dijauhkanlah
dulu, Mar hp nya. Selesaikan bacaanmu itu.” Tegur Lintang. Ia sangat paham
keinginan dan cita-cita sahabatnya itu sejak memutuskan kuliah bersama di Jogja.
Menjadi penulis.
“Ia,
Lin. Tapi buku ini isinya banyak istilah-istilah yang sulit aku mengerti.
Sehingga, memaksaku mencarinya di mesin pencari”, kilahnya.
“Tapi
kan kamu bisa membuka kamus bahasa indonesia atau kamus kata ilmiah
milikku ini.” Yang disanggah langsung mengambil kamus-kamus tebal itu dan membukanya.
***
Jauh
nun di bawah kerlap kerlip cahaya Bukit Bintang, pondok pesantren mahasiswa
khusus puteri itu tengah tenggelam dalam alunan shalawat yang diputar lewat TOA
masjid dekat pesantren. Malam jum’at. Sementara disalah satu kamar asrama itu nampak
dua orang remaja sedang membaca surah Yasin berjamaah. Suasana pesantren malam
itu sepi dari kegiatan mengaji dan hadlrah sama dengan malam-malam selama 3
minggu belakangan. Lain halnya dengan hari aktif kuliah. Semua mahasiswa puteri
penghuni pondok pesantren ini akan ramai jika kuliah aktif kembali. Mafhum,
hampir semua mahasantri di pesantren merupakan mahasiswa di fakultas yang sama
dan perguruan tinggi yang sama pula.
Akan
ada suara ustadz dan ustadzah yang mengajar kitab arab gundul, mulai dari kitab
Fathul Qorib sampai Fathul Mu’in. Atau mulai dari kitab Subul As-Salam sampai
kitab Tafsir wa al-Mufassirun. Ada kalanya suara terbangan hadrah yang karuan
dan tak karuan. Ada juga suara mahasantri yang me-muraja’ah hafalan
Qur’annya. Terkadang akan terdengar lagu-lagu. Baik dilagukan dengan suara
tanpa diiringi musik ataupun lagu-lagu yang diputar dari salah satu aplikasi
android mereka.
“Hmm,
Mar. Lintang ingin bicara ke Mar.” Marfu’ah melepas android setelah sebelumnya
ia khatam surah Yasin tigakali beserta membaca doanya.
“Wew,
ngape, kawan. Ngomong bai lah.”
“Lintang
mohon doanya, Mar. Lintang akan ikut international conference di Universitas
Salatiga. Paper Lintang lulus dan akan diperesentasikan pada event
itu.” yang menyimak hanya berdecak kagum. Kapan dia mengerjakan paper?
Sedang aku melihatnya hanya terus membaca buku sesekali menulis diary, pikir
Marfu’ah.
“Mar
akan selalu mendukung Lintang. Dan akan selalu mendoakan Lintang.”
Keduanya
berpelukan erat. Lintang akan segera menelepon ayahnya di kampung. Marfu’ah pun
akan melakukan hal yang sama. Menelepon ayah ibunya untuk memberi kabar serta
minta turut mendoakan Lintang semoga lancar dan juara di international
conference kali ini.
Ya.
Sebetulnya Marfu’ah dan Lintang tergolong santri yang berprestasi di pesantren
dahulu. Apalagi keduanya lulus di perguruan tinggi negeri dengan beasiswa penuh
dari negara. Marfu’ah memiliki orangtua yang cukup berada sedang Lintang adalah
seorang piatu yang ditinggal mati oleh ibunya sejak masih kecil. Ayahnya bekerja
sebagai staf di salah perpustakaan daerah kota Pangkalpinang. Sedang ayahnya
jika ditanya mengapa tidak mencari pengganti ibu, ayahnya hanya menjawab, ‘kamu
sudah cukup bagi ayah, kenapa ayah harus mencari lagi?’. Darisanalah Lintang
selalu termotivasi untuk cepat menyelesaikan kuliah sarjana satunya kemudian
pulang, hidup berdua dan berbahagia bersama ayah tercintanya. Lantas, motivasi
itu diterapkan dalam timeline hidupnya sehingga target-target yang ada
harus ia capai. Hasilnya, sejak kuliah hingga semester dua ini, IPK-nya
tertinggi satu jurusan dan telah beberapa kali mempresentasikan paper-nya
baik di forum nasional maupun internasional.
Marfu’ah,
seorang remaja putri yang baru saja merayakan umur kepala duanya. Ia keponakan
satu-satu pamannya yang telah sukses di pabrik makanan khas Bangka ternama di
Bangka. Meskipun, ia memiliki keluarga yang berada, hingga saat ini kedua
orangtuanya masih berbagi rezeki antara menabung ongkos haji dan menggaji sebelas
karyawan di pabrik terasi khas Bangka warisan kakeknya itu.
Suatu
malam, Marfu’ah ditawari Lintang sebuah buku. Salah satu subbab buku itu
memberi pembahasan tentang kekayaan yang didapat dari profesi seorang penulis.
Darisanalah ia mengikrarkan diri dalam hati dan di depan sahabat tercintanya,
Lintang, menjadi seorang penulis. Ia ingin menjadi mahasiswa yang kaya dari
menulis. Sehingga ia dapat mengumpulkan uang untuk memberangkatkan haji kedua
orangtuanya.
***
Tiba-tiba
saat Marfu’ah dan Lintang selesai sholat isya berjamaah. Marfu’ah mencolek bahu
Lintang.
“Lintang,
kamu tahu aku suka malas saat membaca buku-buku?” Lintang menoleh sembari
membenarkan kacamata bacanya. Ia tersenyum kepada sahabatnya itu.
“Ia,
Mar. Malas itu normal. Tapi bisa kok diantisipasi, Mar.”
“Caranya?”
“Jawab
dulu pertanyaanku, kenapa Mar malas membaca buku-buku?”
“Buku
itu banyak istilah-istilah sulitnya.
Lalu aku harus membuka kamus tebal atau mencarinya di internet. Belum lagi
kudapati artinya di internet, tak jarang jariku meng-klik yang lain hingga
bukannya melanjutkan membaca buku, aku malah membaca chat grup whatsapp
atau melihat status kawan-kawan.” Lintang menyimak dan sesekali tersenyum geli
melihat ekspresi Marfu’ah saat bercerita pengalamannya membaca buku.
Sesaat
hening. Lintang tengah berpikir respon yang cocok untuk menjawab kegelisahan
sahabatnya ini. Tiba-tiba ia teringat nasehat bu Nyai pondok.
“Mar,
semuanya perlu proses. Dan kita harus mencintai proses itu. Mar kan sudah
menancapkan niat baik, menjadi penulis. Maka itulah prosesnya, Mar. Juga,
jangan lupa. Pekerjaan yang baik itu tidak mudah. Harus melalui beberapa
rintangan. Apalagi niat baik Mar dari keinginan ini adalah memberangkatkan
orangtua haji kan, itu adalah cita-cita yang mulia, Mar. Sungguh. Dan setan
tidak akan membiarkan begitu saja niat baik itu. Terus menggoda. Godaannya
banyak, ada rasa malas, kemewahan dunia ataupun godaan dari lingkungan sekitar.
Maka, kita harus bersabar dan terus berdoa, Mar. Semoga Allah terus kuatkan
kesabaran kita dan menghindarkan diri kita dari godaan setan yang terkutuk.”
Keduanya berpelukan erat lagi. Tanpa sadar, air mata keduanya tumpah ruah.
Mengenang persahabatan mereka sejak SD hingga saat ini, selalu bersama. Suka
dan duka.
“Aku
berterimakasih pada Allah, Lintang. Allah telah anugerahkan kamu untukku.”ucapnya
lirih.
“Lintang
juga Mar. Lintang bersyukur. Allah takdirkan Mar untuk Lintang.”
Malam
itu terasa syahdu. Di langit malaikat tengah melebarkan jubah cahayanya,
menaungi bumi, menaungi dua orang yang saling mencintai karena Allah.
***
Lintang
mengemasi barang-barang bawaannya, siap bertarung di Universitas Salatiga, Jawa
Tengah. Ia akan diantar Marfu’ah ke stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Setelah sowan
ke bu Nyai pondok, keduanya pun berangkat.
Hilir
mudik penumpang dan penjemput nampak ramai di ruang tunggu stasiun.
“Setelah
tiba, langsung kabari aku.”
“Ya,
Mar. Mar semangat terus belajar membaca dan menulisnya.”
“Siap
bos!”
Kereta
akan berangkat, keduanya berpelukan, erat sekali. Pelukan untuk saling
menguatkan. Diam-diam Marfu’ah membara semangatnya. Dalam hati ia berjanji, ‘Ini
kali terakhir aku mengantarmu untuk konferensi, wahai Lintang. Lain kali, kita
titipkan motor di tempat penitipan. Kita pergi berdua saja!’
Sepulangnya
dari stasiun, Marfu’ah langsung mengambil diary-nya. Menumpahkan rasanya
dalam tulisan. Seperti kata-kata Lintang, tulis apa saja yang kamu rasakan dan
ingin luapkan. Suatu saat tulisan itu akan berharga dan berguna. Paling tidak
sebagai bukti, bahwa kamu pernah ada.
Marfu’ah
siap maju. Ia pun akan siap gagal. Dia pikir tidak ada kata terlambat untuk
belajar. Ia pun tahu harus mulai darimana. Dari diri sendiri, dari hati. Jatuh
dan gagal adalah lumrah, bangkit dan lari lagi adalah luar biasa. Proses itu
siap di jalani meskipun berbagai ketakutan berseliweran di benaknya. Takut
tidak ada ide saat menulis, takut jelek tulisannya, takut dicemooh, takut salah
dalam menulis dan berbagai ketakutan dan ketidakpercayaan diri lainnya. Malam
ini gerhana bulan. Ia lambungkan semangat dan kepalan tangannya ke arah bulan
sembari berdoa.
‘Kuatkan
kesabaran untukku, ya Allah.’
Perum. Gowok, Yogyakarta, 18 Januari 2018