Rabu, 11 Desember 2019

Cita-cita Marfu’ah



Oleh: Isbaria TRL
          Remaja itu berbaring, sesekali duduk bersandar di atas tempat tidurnya sembari menumpukan kedua sikunya pada bantal berbahan dakron. Namun, hari ini lebih sering ia berbaring ketimbang duduk. Sesekali ia tertawa lepas, menangis terharu, atau mata melotot berdecak kagum dengan mulut menganga. Tanpa terasa, waktu telah menunjukkan pukul dua lewat empatpuluh enam menit sedang ia belum menunaikan shalat zhuhur.
            Sementara, android bermerek dan bertipe baru sudah terasa panas di genggamannya. Sejak pukul delapan tadi pagi, barang tipis dan berbentuk persegi panjang itu tidak pernah terlepas dari pantauannya. Membaca pesan di beberapa grup whatsapp, melihat status whatsapp, atau sekedar mengecek pemberitahuan akun facebook-nya atau ber-stalking ria. Mulai dari akun instagram artis atau selebgram yang dikaguminya sampai toko-toko online yang menjual busana hingga makanan elit gandrung anak-anak muda kalangan mahasisiwa namun, tetap dengan harga terjangkau.
            Sesaat kemudian, ia langsung berdiri tegak. Melepaskan androidnya. Meluruskan persendian-persendian yang kaku dan kikuk karena dibiarkan tanpa bergerak selama berjam-jam. Lintang, roommate-nya yang dari tadi hanya diam dan membaca buku Kitab Penyihir Aksara karya Brili Agung pun hanya geleng-geleng dan menatapnya tajam. Yang ditatap tajam hanya tersenyum dan terkekeh-kekeh berjalan ke arah dapur asrama, menuju kamar mandi, lalu berwudlu.
            “Apakah liburan ini benar-benar hanya ingin diisi dengan hal-hal seperti tadi?” yang ditanya hanya mesem-mesem di sebelah sahabatnya sejak SD itu. “Kalau begitu, akan sungguh rugi dan engkau akan menyesal nantinya, Mar.” Lintang masih menasehati Marfu’ah, sahabat seperjuangan dan seperantauannya di kota pelajar, Yogyakarta. “Katanya, mau jadi penulis terkenal, menulis kan upaya menuangkan kata para penulis hebat di buku-buku itu. Sedangkan kegiatan menuangkan itu haruslah ada kegiatan mengisi sebelumnya. Kegiatan mengisi itulah dengan membaca, Marfu’ah binti Abdullah.” Sahabatnya masih menasehati dengan lemah lembut. Yang dinasehati masih menyimak sembari membaca chat masuk dari aplikasi whatsapp itu.
            Marfu’ah tahu dan sadar, apa yang disampaikan Lintang, sahabatnya, itu memang benar dan tepat. Tapi keasyikan bermain ria dengan android baru sebagai hadiah ulangtahunnya yang ke-20 dari pamannya itu tak bisa tertahankan. Sesekali ia melepas benda itu dari tangannya, tapi waktu luang selama liburan semester dua itu lebih banyak ia habiskan bersama benda persegi panjang itu. Hari ini aku harus menamatkan buku ini, niatnya dalam hati. Banyaknya istilah-istilah yang sulit ia pahami dari buku penunjang perkuliahan itu mendorong Marfu’ah mencari  maksudnya di google. Tak urung, berbelot juga ia ke situs web lain yang bukan tujuan semula ia menggunakan android itu lagi.
            “Dijauhkanlah dulu, Mar hp nya. Selesaikan bacaanmu itu.” Tegur Lintang. Ia sangat paham keinginan dan cita-cita sahabatnya itu sejak memutuskan kuliah bersama di Jogja. Menjadi penulis.
            “Ia, Lin. Tapi buku ini isinya banyak istilah-istilah yang sulit aku mengerti. Sehingga, memaksaku mencarinya di mesin pencari”, kilahnya.
            “Tapi kan kamu bisa membuka kamus bahasa indonesia atau kamus kata ilmiah milikku ini.” Yang disanggah langsung mengambil kamus-kamus tebal itu dan membukanya.
***
            Jauh nun di bawah kerlap kerlip cahaya Bukit Bintang, pondok pesantren mahasiswa khusus puteri itu tengah tenggelam dalam alunan shalawat yang diputar lewat TOA masjid dekat pesantren. Malam jum’at. Sementara disalah satu kamar asrama itu nampak dua orang remaja sedang membaca surah Yasin berjamaah. Suasana pesantren malam itu sepi dari kegiatan mengaji dan hadlrah sama dengan malam-malam selama 3 minggu belakangan. Lain halnya dengan hari aktif kuliah. Semua mahasiswa puteri penghuni pondok pesantren ini akan ramai jika kuliah aktif kembali. Mafhum, hampir semua mahasantri di pesantren merupakan mahasiswa di fakultas yang sama dan perguruan tinggi yang sama pula.
            Akan ada suara ustadz dan ustadzah yang mengajar kitab arab gundul, mulai dari kitab Fathul Qorib sampai Fathul Mu’in. Atau mulai dari kitab Subul As-Salam sampai kitab Tafsir wa al-Mufassirun. Ada kalanya suara terbangan hadrah yang karuan dan tak karuan. Ada juga suara mahasantri yang me-muraja’ah hafalan Qur’annya. Terkadang akan terdengar lagu-lagu. Baik dilagukan dengan suara tanpa diiringi musik ataupun lagu-lagu yang diputar dari salah satu aplikasi android mereka.
            “Hmm, Mar. Lintang ingin bicara ke Mar.” Marfu’ah melepas android setelah sebelumnya ia khatam surah Yasin tigakali beserta membaca doanya.
            Wew, ngape, kawan. Ngomong bai lah.”[1]
            “Lintang mohon doanya, Mar. Lintang akan ikut international conference di Universitas Salatiga. Paper Lintang lulus dan akan diperesentasikan pada event itu.” yang menyimak hanya berdecak kagum. Kapan dia mengerjakan paper? Sedang aku melihatnya hanya terus membaca buku sesekali menulis diary, pikir Marfu’ah.
            “Mar akan selalu mendukung Lintang. Dan akan selalu mendoakan Lintang.”
            Keduanya berpelukan erat. Lintang akan segera menelepon ayahnya di kampung. Marfu’ah pun akan melakukan hal yang sama. Menelepon ayah ibunya untuk memberi kabar serta minta turut mendoakan Lintang semoga lancar dan juara di international conference kali ini.
            Ya. Sebetulnya Marfu’ah dan Lintang tergolong santri yang berprestasi di pesantren dahulu. Apalagi keduanya lulus di perguruan tinggi negeri dengan beasiswa penuh dari negara. Marfu’ah memiliki orangtua yang cukup berada sedang Lintang adalah seorang piatu yang ditinggal mati oleh ibunya sejak masih kecil. Ayahnya bekerja sebagai staf di salah perpustakaan daerah kota Pangkalpinang. Sedang ayahnya jika ditanya mengapa tidak mencari pengganti ibu, ayahnya hanya menjawab, ‘kamu sudah cukup bagi ayah, kenapa ayah harus mencari lagi?’. Darisanalah Lintang selalu termotivasi untuk cepat menyelesaikan kuliah sarjana satunya kemudian pulang, hidup berdua dan berbahagia bersama ayah tercintanya. Lantas, motivasi itu diterapkan dalam timeline hidupnya sehingga target-target yang ada harus ia capai. Hasilnya, sejak kuliah hingga semester dua ini, IPK-nya tertinggi satu jurusan dan telah beberapa kali mempresentasikan paper-nya baik di forum nasional maupun internasional.
            Marfu’ah, seorang remaja putri yang baru saja merayakan umur kepala duanya. Ia keponakan satu-satu pamannya yang telah sukses di pabrik makanan khas Bangka ternama di Bangka. Meskipun, ia memiliki keluarga yang berada, hingga saat ini kedua orangtuanya masih berbagi rezeki antara menabung ongkos haji dan menggaji sebelas karyawan di pabrik terasi khas Bangka warisan kakeknya itu.
            Suatu malam, Marfu’ah ditawari Lintang sebuah buku. Salah satu subbab buku itu memberi pembahasan tentang kekayaan yang didapat dari profesi seorang penulis. Darisanalah ia mengikrarkan diri dalam hati dan di depan sahabat tercintanya, Lintang, menjadi seorang penulis. Ia ingin menjadi mahasiswa yang kaya dari menulis. Sehingga ia dapat mengumpulkan uang untuk memberangkatkan haji kedua orangtuanya.
***
            Tiba-tiba saat Marfu’ah dan Lintang selesai sholat isya berjamaah. Marfu’ah mencolek bahu Lintang.
            “Lintang, kamu tahu aku suka malas saat membaca buku-buku?” Lintang menoleh sembari membenarkan kacamata bacanya. Ia tersenyum kepada sahabatnya itu.
            “Ia, Mar. Malas itu normal. Tapi bisa kok diantisipasi, Mar.”
            “Caranya?”
            “Jawab dulu pertanyaanku, kenapa Mar malas membaca buku-buku?”
            “Buku itu  banyak istilah-istilah sulitnya. Lalu aku harus membuka kamus tebal atau mencarinya di internet. Belum lagi kudapati artinya di internet, tak jarang jariku meng-klik yang lain hingga bukannya melanjutkan membaca buku, aku malah membaca chat grup whatsapp atau melihat status kawan-kawan.” Lintang menyimak dan sesekali tersenyum geli melihat ekspresi Marfu’ah saat bercerita pengalamannya membaca buku.
            Sesaat hening. Lintang tengah berpikir respon yang cocok untuk menjawab kegelisahan sahabatnya ini. Tiba-tiba ia teringat nasehat bu Nyai pondok.
            “Mar, semuanya perlu proses. Dan kita harus mencintai proses itu. Mar kan sudah menancapkan niat baik, menjadi penulis. Maka itulah prosesnya, Mar. Juga, jangan lupa. Pekerjaan yang baik itu tidak mudah. Harus melalui beberapa rintangan. Apalagi niat baik Mar dari keinginan ini adalah memberangkatkan orangtua haji kan, itu adalah cita-cita yang mulia, Mar. Sungguh. Dan setan tidak akan membiarkan begitu saja niat baik itu. Terus menggoda. Godaannya banyak, ada rasa malas, kemewahan dunia ataupun godaan dari lingkungan sekitar. Maka, kita harus bersabar dan terus berdoa, Mar. Semoga Allah terus kuatkan kesabaran kita dan menghindarkan diri kita dari godaan setan yang terkutuk.” Keduanya berpelukan erat lagi. Tanpa sadar, air mata keduanya tumpah ruah. Mengenang persahabatan mereka sejak SD hingga saat ini, selalu bersama. Suka dan duka.
            “Aku berterimakasih pada Allah, Lintang. Allah telah anugerahkan kamu untukku.”ucapnya lirih.
            “Lintang juga Mar. Lintang bersyukur. Allah takdirkan Mar untuk Lintang.”
            Malam itu terasa syahdu. Di langit malaikat tengah melebarkan jubah cahayanya, menaungi bumi, menaungi dua orang yang saling mencintai karena Allah.
***
            Lintang mengemasi barang-barang bawaannya, siap bertarung di Universitas Salatiga, Jawa Tengah. Ia akan diantar Marfu’ah ke stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Setelah sowan ke bu Nyai pondok, keduanya pun berangkat.
            Hilir mudik penumpang dan penjemput nampak ramai di ruang tunggu stasiun.
            “Setelah tiba, langsung kabari aku.”
            “Ya, Mar. Mar semangat terus belajar membaca dan menulisnya.”
            “Siap bos!”
            Kereta akan berangkat, keduanya berpelukan, erat sekali. Pelukan untuk saling menguatkan. Diam-diam Marfu’ah membara semangatnya. Dalam hati ia berjanji, ‘Ini kali terakhir aku mengantarmu untuk konferensi, wahai Lintang. Lain kali, kita titipkan motor di tempat penitipan. Kita pergi berdua saja!’
            Sepulangnya dari stasiun, Marfu’ah langsung mengambil diary-nya. Menumpahkan rasanya dalam tulisan. Seperti kata-kata Lintang, tulis apa saja yang kamu rasakan dan ingin luapkan. Suatu saat tulisan itu akan berharga dan berguna. Paling tidak sebagai bukti, bahwa kamu pernah ada.
            Marfu’ah siap maju. Ia pun akan siap gagal. Dia pikir tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ia pun tahu harus mulai darimana. Dari diri sendiri, dari hati. Jatuh dan gagal adalah lumrah, bangkit dan lari lagi adalah luar biasa. Proses itu siap di jalani meskipun berbagai ketakutan berseliweran di benaknya. Takut tidak ada ide saat menulis, takut jelek tulisannya, takut dicemooh, takut salah dalam menulis dan berbagai ketakutan dan ketidakpercayaan diri lainnya. Malam ini gerhana bulan. Ia lambungkan semangat dan kepalan tangannya ke arah bulan sembari berdoa.
            ‘Kuatkan kesabaran untukku, ya Allah.’


Perum. Gowok, Yogyakarta, 18 Januari 2018



                [1] Bahasa percakapan di Bangka. Artinya, “Wew, ada apa, Kawan. Bicara saja.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau Main di Sini (Lagi)

Sudah lama tidak kesini. Menyibak benih yang kusemai dahulu kala sekali. Sudah lama tidak kesini. Benihku tak terurus tapi tak ditumbuhi rum...