Jumat, 20 Desember 2019

Berhenti Sejenak untuk Hati yang Lapang


Desember masih betah dihujani dan awan-awan kelabu masih setia menyapa langit Yogyakarta. Tak tahu sampai bila. Yang kutahu pasti, aku suka cuaca seperti ini. Aroma dedaunan basah. Bau rumput dan tanah yang lembab. Hingga hangatnya selimut memberi kesan berarti untuk diri dan hati. Seorang pemimpi ulung-siang malam mimpinya selalu tergenggam-sepertiku pun begitu. Masih betah di atas bumi Yogya paling tidak hingga tahun 2019 berakhir dan menetap beberapa bulan di 2020 untuk merampungkan studi sarjana. Usiaku duapuluhsatu. Untuk ukuran mimpi-mimpi yang kutulis dan harapan-harapan besar yang terlukis, usia dua-satu masih belia. Maksudku masih terlalu muda untuk memikirkan masa-masa dimana aku harus belajar memahami seseorang, hidup bersamanya, belajar bersama di rumah kehidupan bernama pernikahan.

Tetap saja, kali ini aku kalah. Meskipun kukira semua akan baik-baik saja. Tak ada perubahan yang signifikan dalam hidupku. Ya. Tahun ini aku baru saja melakukan suatu hal yang belum pernah kulakukan selama hidupku sebelumnya.
.
.
.
Kisahnya berawal dari aku yang memendam perasaan dengan seseorang selama belasan tahun. Lima belas tahun tepatnya. Bukan hal yang mudah menjalaninya. Selama itu juga aku biasa bertarung dengan diri sendiri. Ada banyak perjuangan dan pengorbanan. Tetap diam menyimpan sampai mati kurasa bukan pilihan yang tepat. Hidup harus terus dijalani. Hidup terlalu berharga untuk hal konyol seperti itu.

Hidup dengan tenang adalah impian banyak orang. Setidaknya perempuan penyendiri sepertiku. Bebas memilih, bebas melangkah, bebas bergerak, dan bebas melakukan apa yang hati kehendaki. Akhirnya, di suatu malam di salah satu kamar pondok pesantren Yogyakarta yang saat ini kutempati sampai sarjana ini tuntas, kutetapkan satu pilihan. Terhidang dua pilihan di hadapanku sendiri. Memilih diam memendam seumur hidup dengan bayangan ilusi sosok yang dikagumi atau mengatakan langsung pada orangnya. Ya. Dengan pertimbangan belasan tahun. Mengenang selama itu juga aku menjadi pesakitan. Malam itu juga kubacakan surah Yasin sembari kuhadiahkan bacaan itu untukku, untuknya, dan untuk kebaikan-kebaikan kami. Teguhlah pilihan itu. Jujur pada diri sendiri dan mengatakannya.

Belajar dari perjalanan belasan tahun itu, aku semakin yakin. Ini bukan hal yang membahayakan kukira. Lagipula, tidak sedikit waktu dan pikiran, tangis dan perasaan. Aku hidup dari beberapa komponen sebelum ini. Lapang-tawa-derita-air mata-bangun-jatuh-sempit-manis-asam-kuat-rapuh-atas-dan-rendah. Ini bukanlah hal yang lebih besar dari upayaku berjuang dan berusaha  sekuat tenaga berdiri di kaki sendiri. Terkadang patah-rapuh-jatuh-kalah-dan-rendah.

Aku belajar memberi porsi. Sepatutnya porsi hal ini tidak lebih besar dari harga yang harus kubayar untuk masa depan. Kalah sebelum melangkah bukanlah pilihan yang bagus. Aku telah berlatih untuk segala kemungkinannya. Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar. Dan tak ada yang perlu disesali. Tidak ada pula kesia-siaan selama waktu itu. Kepada Pencipta hati dan diri, kuserahkan semua pada-Nya.
Kamu harus tangguh dan memang seharusnya begitu.


Prambanan, 20 Desember 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau Main di Sini (Lagi)

Sudah lama tidak kesini. Menyibak benih yang kusemai dahulu kala sekali. Sudah lama tidak kesini. Benihku tak terurus tapi tak ditumbuhi rum...