Ini Desember!
Bulan mengingat. Minggu-minggu sesak memikirkan. Hari-hari lirih mengenang. Merasakan kembali betapa lemahnya pada keadaan. Begitu menyesakkan dada dengan luka dan duka lara.
Bulan mengingat. Minggu-minggu sesak memikirkan. Hari-hari lirih mengenang. Merasakan kembali betapa lemahnya pada keadaan. Begitu menyesakkan dada dengan luka dan duka lara.
Ini Desember!
Sudah Desember duaribu-sembilanbelas. Dan aku masih seperti bulan-bulan berlalu, menjadi pesakitan.
Mengagumi dalam diam. Bertahan selama lima belas tahun lamanya. Terkungkung
dengan khayalan dan imaji penuh sepi dan rasa sendiri. Berbagai hal, peristiwa,
dan momen berlalu berbarengan. Tak seharusnya hanya fokus pada satu. Akan membunuh
secara perlahan lalu tenggelam dan tersesat. Tak genah jalan pulang.
Sudah Desember!
Rupanya
tak jera juga dengan kesepian yang menyiksa. Lebih tepatnya sengaja membiarkan.
Menyerah dan putusasa. Padahal seharusnya bisa bergerak lebih dari sekadar mencintai
dalam diam. Lebih dari sekadar menyayangi dari kejauhan. Lebih jauh ternyata sampai meratapi. Konyol. Sudah sadar jika tak akan mungkin menjadi lebih malah
semakin kuat kan rasanya. Mengakar kuat di lubuk hati paling dalam.
Sudah Desember!
Terlalu angkuh! Dasar! Sudah sadar sedari awal tidak akan sampai jika tak disampaikan. Tak akan lega jika tak dikatakan dan tak ada yang berubah jika tak segera melakukannya. Lagipula ia nyata, ada di dunia. Ya ampun. Dan juga ini zaman modern. Semuanya mudah dijangkau dan diakses. Kekuatan seperti apa yang membikin bisa bertahan sejauh ini. Andai kekuatan itu difokuskan pada mimpi dan realisasi harapan mungkin sudah mengerti dirimu orangnya seperti apa? Maunya gimana? Dan lebih dari itu. Dirimu punya banyak teman dan pengalaman.
Terlalu angkuh! Dasar! Sudah sadar sedari awal tidak akan sampai jika tak disampaikan. Tak akan lega jika tak dikatakan dan tak ada yang berubah jika tak segera melakukannya. Lagipula ia nyata, ada di dunia. Ya ampun. Dan juga ini zaman modern. Semuanya mudah dijangkau dan diakses. Kekuatan seperti apa yang membikin bisa bertahan sejauh ini. Andai kekuatan itu difokuskan pada mimpi dan realisasi harapan mungkin sudah mengerti dirimu orangnya seperti apa? Maunya gimana? Dan lebih dari itu. Dirimu punya banyak teman dan pengalaman.
Meskipun
sudah Desember!
Ya. Meskipun sudah Desember dan sudah tahun duaribu-sembilan belas. Tak ada yang perlu disesali. Justru ingin berterimakasih atas pengalaman ini. Paling tidak dari pengalaman yang konyol itu diri terjaga dari kisah-kisah klise remaja seumuran. Cinta monyet misalnya. Menyatakan, ‘aku jatuh cinta’ dengan ringan mulut. Sedari dulu kusadari, setiap hal ada konsekuensinya. Dan inilah yang jadi prinsip dari dulu. Begitupun saat ini. Ketika sudah kusampaikan perasaan yang selama belasan tahun itu, pada berbagai kemungkinan yang terjadi setelahnya sudah terpikir sejak belasan tahun lamanya itu juga. Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal. Allah menjawab doaku dulu agar selalu jadi tegar dan siap dengan takdir yang diberi-Nya.
Ya. Meskipun sudah Desember dan sudah tahun duaribu-sembilan belas. Tak ada yang perlu disesali. Justru ingin berterimakasih atas pengalaman ini. Paling tidak dari pengalaman yang konyol itu diri terjaga dari kisah-kisah klise remaja seumuran. Cinta monyet misalnya. Menyatakan, ‘aku jatuh cinta’ dengan ringan mulut. Sedari dulu kusadari, setiap hal ada konsekuensinya. Dan inilah yang jadi prinsip dari dulu. Begitupun saat ini. Ketika sudah kusampaikan perasaan yang selama belasan tahun itu, pada berbagai kemungkinan yang terjadi setelahnya sudah terpikir sejak belasan tahun lamanya itu juga. Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal. Allah menjawab doaku dulu agar selalu jadi tegar dan siap dengan takdir yang diberi-Nya.
Desember
kelabu? Siapa takut?!!
Ya. Dianugerahkan bernafas dengan gratis dan nikmat hingga pertengahan Desember memang kukira satu bulan Desember akan kelabu. Sekali lagi karena fokusku hanya itu. Hanya pada perasaanku sendiri. Betapa tak bersyukurnya diriku pada kehidupan. Betapa terlalu naifnya pada kenikmatan-kenikmatan tiada tara yang diberi-Nya. Besar syukurku pada Tuhan karena beri pengalaman ini. Secara kan aku tidak kalah sepenuhnya. Aku diuntungkan of course karena bisa mengambil pelajaran dari rasa sakit itu. Jodoh itu hanya soal waktu dan kejutan-kejutan. Bersiaplaah!
Ya. Dianugerahkan bernafas dengan gratis dan nikmat hingga pertengahan Desember memang kukira satu bulan Desember akan kelabu. Sekali lagi karena fokusku hanya itu. Hanya pada perasaanku sendiri. Betapa tak bersyukurnya diriku pada kehidupan. Betapa terlalu naifnya pada kenikmatan-kenikmatan tiada tara yang diberi-Nya. Besar syukurku pada Tuhan karena beri pengalaman ini. Secara kan aku tidak kalah sepenuhnya. Aku diuntungkan of course karena bisa mengambil pelajaran dari rasa sakit itu. Jodoh itu hanya soal waktu dan kejutan-kejutan. Bersiaplaah!
Doa
untuk Desember, satu tahun berlalu, dan tahun-tahun yang akan datang.
Semoga
Allah selalu menjaga, mengiringi setiap langkah perjalanan hidup, dan
selalu berada dalam ridha dan maghfirah-Nya. Amiin.
Bokoharjo, 291219.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar