Senin, 09 Desember 2019

Maaf



Maaf...
Untuk keadaan yang beberapa tahun terakhir baru kusadari. Untuk tahun-tahun penuh derita bagimu dan tahun-tahun kesepian bagiku, Aku minta maaf.

Jika saja aku menerimamu sejak dulu apakah keadaannya akan seperti ini? Kamu yang mencintainya, sakit menyertai, katamu. Aku yang tak berdaya dengan kesendirian-kesendirian.

Untuk penyesalan-penyesalan yang beberapa purnama telah menimpaku, Aku minta maaf. Jelmaanmu di ingatanku akhir-akhir ini seakan seperti karma untukku.
Sebuah ruang bernama chatting room mempertemukan kita. Di sela-sela kamu sedang mencintainya dan aku dalam hening menunggu, seutas kalimat darimu sampai kepadaku, “Jika dulu keras kepalamu mau kamu simpan sebentar, Apakah aku akan sesakit ini dan kamu tidak hanya menjelma kata-kata? Bisakah kamu menjadi lebih dari itu? Ketahuilah, aku menyayangi dan masih tetap sayang padamu.”

Permintaan maaf ini kukira wajar saja tertuju padamu tapi ada yang lebih pantas. Untuk diri sendiri, Aku minta maaf. Sikap keras kepala dulu mengantarku pada jalan lain untuk memahami arti hubungan dua insan. Beberapa sikap juga turut membantu. Seperti tak mudah mengatakan, "Aku jatuh cinta." Dalam perasaan seperti itu, aku berpikir setelahnya. Jatuh cinta yang kusebut dengan ringan dulu itu bertahap terjadinya. Tak sembarang ringan lidah.

Secuil hal yang kupahami dari hatiku, "Kamu berharga, tidak patut kau patahkan hatimu dengan ringan menyatakan, 'Aku jatuh cinta."

Terakhir, maaf dan terimakasih. :)


Yogyakarta, 9 Desember 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau Main di Sini (Lagi)

Sudah lama tidak kesini. Menyibak benih yang kusemai dahulu kala sekali. Sudah lama tidak kesini. Benihku tak terurus tapi tak ditumbuhi rum...