Isbaria Tarmidzi Luqman
Rasa, Prosa, & Aksara
Senin, 20 Maret 2023
Mau Main di Sini (Lagi)
Minggu, 29 Desember 2019
Desember Kelabu
Ini Desember!
Bulan mengingat. Minggu-minggu sesak memikirkan. Hari-hari lirih mengenang. Merasakan kembali betapa lemahnya pada keadaan. Begitu menyesakkan dada dengan luka dan duka lara.
Bulan mengingat. Minggu-minggu sesak memikirkan. Hari-hari lirih mengenang. Merasakan kembali betapa lemahnya pada keadaan. Begitu menyesakkan dada dengan luka dan duka lara.
Ini Desember!
Sudah Desember duaribu-sembilanbelas. Dan aku masih seperti bulan-bulan berlalu, menjadi pesakitan.
Mengagumi dalam diam. Bertahan selama lima belas tahun lamanya. Terkungkung
dengan khayalan dan imaji penuh sepi dan rasa sendiri. Berbagai hal, peristiwa,
dan momen berlalu berbarengan. Tak seharusnya hanya fokus pada satu. Akan membunuh
secara perlahan lalu tenggelam dan tersesat. Tak genah jalan pulang.
Sudah Desember!
Rupanya
tak jera juga dengan kesepian yang menyiksa. Lebih tepatnya sengaja membiarkan.
Menyerah dan putusasa. Padahal seharusnya bisa bergerak lebih dari sekadar mencintai
dalam diam. Lebih dari sekadar menyayangi dari kejauhan. Lebih jauh ternyata sampai meratapi. Konyol. Sudah sadar jika tak akan mungkin menjadi lebih malah
semakin kuat kan rasanya. Mengakar kuat di lubuk hati paling dalam.
Sudah Desember!
Terlalu angkuh! Dasar! Sudah sadar sedari awal tidak akan sampai jika tak disampaikan. Tak akan lega jika tak dikatakan dan tak ada yang berubah jika tak segera melakukannya. Lagipula ia nyata, ada di dunia. Ya ampun. Dan juga ini zaman modern. Semuanya mudah dijangkau dan diakses. Kekuatan seperti apa yang membikin bisa bertahan sejauh ini. Andai kekuatan itu difokuskan pada mimpi dan realisasi harapan mungkin sudah mengerti dirimu orangnya seperti apa? Maunya gimana? Dan lebih dari itu. Dirimu punya banyak teman dan pengalaman.
Terlalu angkuh! Dasar! Sudah sadar sedari awal tidak akan sampai jika tak disampaikan. Tak akan lega jika tak dikatakan dan tak ada yang berubah jika tak segera melakukannya. Lagipula ia nyata, ada di dunia. Ya ampun. Dan juga ini zaman modern. Semuanya mudah dijangkau dan diakses. Kekuatan seperti apa yang membikin bisa bertahan sejauh ini. Andai kekuatan itu difokuskan pada mimpi dan realisasi harapan mungkin sudah mengerti dirimu orangnya seperti apa? Maunya gimana? Dan lebih dari itu. Dirimu punya banyak teman dan pengalaman.
Meskipun
sudah Desember!
Ya. Meskipun sudah Desember dan sudah tahun duaribu-sembilan belas. Tak ada yang perlu disesali. Justru ingin berterimakasih atas pengalaman ini. Paling tidak dari pengalaman yang konyol itu diri terjaga dari kisah-kisah klise remaja seumuran. Cinta monyet misalnya. Menyatakan, ‘aku jatuh cinta’ dengan ringan mulut. Sedari dulu kusadari, setiap hal ada konsekuensinya. Dan inilah yang jadi prinsip dari dulu. Begitupun saat ini. Ketika sudah kusampaikan perasaan yang selama belasan tahun itu, pada berbagai kemungkinan yang terjadi setelahnya sudah terpikir sejak belasan tahun lamanya itu juga. Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal. Allah menjawab doaku dulu agar selalu jadi tegar dan siap dengan takdir yang diberi-Nya.
Ya. Meskipun sudah Desember dan sudah tahun duaribu-sembilan belas. Tak ada yang perlu disesali. Justru ingin berterimakasih atas pengalaman ini. Paling tidak dari pengalaman yang konyol itu diri terjaga dari kisah-kisah klise remaja seumuran. Cinta monyet misalnya. Menyatakan, ‘aku jatuh cinta’ dengan ringan mulut. Sedari dulu kusadari, setiap hal ada konsekuensinya. Dan inilah yang jadi prinsip dari dulu. Begitupun saat ini. Ketika sudah kusampaikan perasaan yang selama belasan tahun itu, pada berbagai kemungkinan yang terjadi setelahnya sudah terpikir sejak belasan tahun lamanya itu juga. Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal. Allah menjawab doaku dulu agar selalu jadi tegar dan siap dengan takdir yang diberi-Nya.
Desember
kelabu? Siapa takut?!!
Ya. Dianugerahkan bernafas dengan gratis dan nikmat hingga pertengahan Desember memang kukira satu bulan Desember akan kelabu. Sekali lagi karena fokusku hanya itu. Hanya pada perasaanku sendiri. Betapa tak bersyukurnya diriku pada kehidupan. Betapa terlalu naifnya pada kenikmatan-kenikmatan tiada tara yang diberi-Nya. Besar syukurku pada Tuhan karena beri pengalaman ini. Secara kan aku tidak kalah sepenuhnya. Aku diuntungkan of course karena bisa mengambil pelajaran dari rasa sakit itu. Jodoh itu hanya soal waktu dan kejutan-kejutan. Bersiaplaah!
Ya. Dianugerahkan bernafas dengan gratis dan nikmat hingga pertengahan Desember memang kukira satu bulan Desember akan kelabu. Sekali lagi karena fokusku hanya itu. Hanya pada perasaanku sendiri. Betapa tak bersyukurnya diriku pada kehidupan. Betapa terlalu naifnya pada kenikmatan-kenikmatan tiada tara yang diberi-Nya. Besar syukurku pada Tuhan karena beri pengalaman ini. Secara kan aku tidak kalah sepenuhnya. Aku diuntungkan of course karena bisa mengambil pelajaran dari rasa sakit itu. Jodoh itu hanya soal waktu dan kejutan-kejutan. Bersiaplaah!
Doa
untuk Desember, satu tahun berlalu, dan tahun-tahun yang akan datang.
Semoga
Allah selalu menjaga, mengiringi setiap langkah perjalanan hidup, dan
selalu berada dalam ridha dan maghfirah-Nya. Amiin.
Bokoharjo, 291219.
Jumat, 20 Desember 2019
Berhenti Sejenak untuk Hati yang Lapang
Desember masih betah dihujani dan awan-awan kelabu masih setia menyapa langit Yogyakarta. Tak tahu sampai bila. Yang kutahu pasti, aku suka cuaca seperti ini. Aroma dedaunan basah. Bau rumput dan tanah yang lembab. Hingga hangatnya selimut memberi kesan berarti untuk diri dan hati. Seorang pemimpi ulung-siang malam mimpinya selalu tergenggam-sepertiku pun begitu. Masih betah di atas bumi Yogya paling tidak hingga tahun 2019 berakhir dan menetap beberapa bulan di 2020 untuk merampungkan studi sarjana. Usiaku duapuluhsatu. Untuk ukuran mimpi-mimpi yang kutulis dan harapan-harapan besar yang terlukis, usia dua-satu masih belia. Maksudku masih terlalu muda untuk memikirkan masa-masa dimana aku harus belajar memahami seseorang, hidup bersamanya, belajar bersama di rumah kehidupan bernama pernikahan.
Tetap
saja, kali ini aku kalah. Meskipun kukira semua akan baik-baik saja. Tak ada perubahan yang signifikan dalam hidupku. Ya. Tahun ini aku baru saja
melakukan suatu hal yang belum pernah kulakukan selama hidupku sebelumnya.
.
.
.
Kisahnya
berawal dari aku yang memendam perasaan dengan seseorang selama belasan tahun. Lima
belas tahun tepatnya. Bukan hal yang mudah menjalaninya. Selama itu juga aku biasa
bertarung dengan diri sendiri. Ada banyak perjuangan dan pengorbanan. Tetap diam
menyimpan sampai mati kurasa bukan pilihan yang tepat. Hidup harus terus
dijalani. Hidup terlalu berharga untuk hal konyol seperti itu.
Hidup
dengan tenang adalah impian banyak orang. Setidaknya perempuan penyendiri
sepertiku. Bebas memilih, bebas melangkah, bebas bergerak, dan bebas melakukan
apa yang hati kehendaki. Akhirnya, di suatu malam di salah satu kamar pondok
pesantren Yogyakarta yang saat ini kutempati sampai sarjana ini tuntas,
kutetapkan satu pilihan. Terhidang dua pilihan di hadapanku sendiri. Memilih
diam memendam seumur hidup dengan bayangan ilusi sosok yang dikagumi atau
mengatakan langsung pada orangnya. Ya. Dengan pertimbangan belasan tahun. Mengenang
selama itu juga aku menjadi pesakitan. Malam itu juga kubacakan surah Yasin
sembari kuhadiahkan bacaan itu untukku, untuknya, dan untuk kebaikan-kebaikan
kami. Teguhlah pilihan itu. Jujur pada diri sendiri dan mengatakannya.
Belajar
dari perjalanan belasan tahun itu, aku semakin yakin. Ini bukan hal yang
membahayakan kukira. Lagipula, tidak sedikit waktu dan pikiran, tangis dan
perasaan. Aku hidup dari beberapa komponen sebelum ini. Lapang-tawa-derita-air
mata-bangun-jatuh-sempit-manis-asam-kuat-rapuh-atas-dan-rendah. Ini bukanlah
hal yang lebih besar dari upayaku berjuang dan berusaha sekuat tenaga berdiri di kaki sendiri. Terkadang
patah-rapuh-jatuh-kalah-dan-rendah.
Aku belajar
memberi porsi. Sepatutnya porsi hal ini tidak lebih besar dari harga yang harus
kubayar untuk masa depan. Kalah sebelum melangkah bukanlah pilihan yang bagus.
Aku telah berlatih untuk segala kemungkinannya. Lima belas tahun bukan waktu
yang sebentar. Dan tak ada yang perlu disesali. Tidak ada pula kesia-siaan
selama waktu itu. Kepada Pencipta hati dan diri, kuserahkan semua pada-Nya.
Kamu
harus tangguh dan memang seharusnya begitu.
Rabu, 11 Desember 2019
Cita-cita Marfu’ah
Oleh: Isbaria TRL
Remaja
itu berbaring, sesekali duduk bersandar di atas tempat tidurnya sembari
menumpukan kedua sikunya pada bantal berbahan dakron. Namun, hari ini lebih
sering ia berbaring ketimbang duduk. Sesekali ia tertawa lepas, menangis
terharu, atau mata melotot berdecak kagum dengan mulut menganga. Tanpa terasa,
waktu telah menunjukkan pukul dua lewat empatpuluh enam menit sedang ia belum
menunaikan shalat zhuhur.
Sementara,
android bermerek dan bertipe baru sudah terasa panas di genggamannya. Sejak
pukul delapan tadi pagi, barang tipis dan berbentuk persegi panjang itu tidak
pernah terlepas dari pantauannya. Membaca pesan di beberapa grup whatsapp,
melihat status whatsapp, atau sekedar mengecek pemberitahuan akun facebook-nya
atau ber-stalking ria. Mulai dari akun instagram artis atau selebgram
yang dikaguminya sampai toko-toko online yang menjual busana hingga
makanan elit gandrung anak-anak muda kalangan mahasisiwa namun, tetap dengan
harga terjangkau.
Sesaat
kemudian, ia langsung berdiri tegak. Melepaskan androidnya. Meluruskan
persendian-persendian yang kaku dan kikuk karena dibiarkan tanpa bergerak
selama berjam-jam. Lintang, roommate-nya yang dari tadi hanya diam dan
membaca buku Kitab Penyihir Aksara karya Brili Agung pun hanya geleng-geleng
dan menatapnya tajam. Yang ditatap tajam hanya tersenyum dan terkekeh-kekeh
berjalan ke arah dapur asrama, menuju kamar mandi, lalu berwudlu.
“Apakah
liburan ini benar-benar hanya ingin diisi dengan hal-hal seperti tadi?” yang
ditanya hanya mesem-mesem di sebelah sahabatnya sejak SD itu. “Kalau begitu,
akan sungguh rugi dan engkau akan menyesal nantinya, Mar.” Lintang masih
menasehati Marfu’ah, sahabat seperjuangan dan seperantauannya di kota pelajar,
Yogyakarta. “Katanya, mau jadi penulis terkenal, menulis kan upaya menuangkan
kata para penulis hebat di buku-buku itu. Sedangkan kegiatan menuangkan itu
haruslah ada kegiatan mengisi sebelumnya. Kegiatan mengisi itulah dengan
membaca, Marfu’ah binti Abdullah.” Sahabatnya masih menasehati dengan lemah
lembut. Yang dinasehati masih menyimak sembari membaca chat masuk dari
aplikasi whatsapp itu.
Marfu’ah
tahu dan sadar, apa yang disampaikan Lintang, sahabatnya, itu memang benar dan
tepat. Tapi keasyikan bermain ria dengan android baru sebagai hadiah
ulangtahunnya yang ke-20 dari pamannya itu tak bisa tertahankan. Sesekali ia
melepas benda itu dari tangannya, tapi waktu luang selama liburan semester dua
itu lebih banyak ia habiskan bersama benda persegi panjang itu. Hari ini aku
harus menamatkan buku ini, niatnya dalam hati. Banyaknya istilah-istilah yang
sulit ia pahami dari buku penunjang perkuliahan itu mendorong Marfu’ah mencari maksudnya di google. Tak urung,
berbelot juga ia ke situs web lain yang bukan tujuan semula ia menggunakan
android itu lagi.
“Dijauhkanlah
dulu, Mar hp nya. Selesaikan bacaanmu itu.” Tegur Lintang. Ia sangat paham
keinginan dan cita-cita sahabatnya itu sejak memutuskan kuliah bersama di Jogja.
Menjadi penulis.
“Ia,
Lin. Tapi buku ini isinya banyak istilah-istilah yang sulit aku mengerti.
Sehingga, memaksaku mencarinya di mesin pencari”, kilahnya.
“Tapi
kan kamu bisa membuka kamus bahasa indonesia atau kamus kata ilmiah
milikku ini.” Yang disanggah langsung mengambil kamus-kamus tebal itu dan membukanya.
***
Jauh
nun di bawah kerlap kerlip cahaya Bukit Bintang, pondok pesantren mahasiswa
khusus puteri itu tengah tenggelam dalam alunan shalawat yang diputar lewat TOA
masjid dekat pesantren. Malam jum’at. Sementara disalah satu kamar asrama itu nampak
dua orang remaja sedang membaca surah Yasin berjamaah. Suasana pesantren malam
itu sepi dari kegiatan mengaji dan hadlrah sama dengan malam-malam selama 3
minggu belakangan. Lain halnya dengan hari aktif kuliah. Semua mahasiswa puteri
penghuni pondok pesantren ini akan ramai jika kuliah aktif kembali. Mafhum,
hampir semua mahasantri di pesantren merupakan mahasiswa di fakultas yang sama
dan perguruan tinggi yang sama pula.
Akan
ada suara ustadz dan ustadzah yang mengajar kitab arab gundul, mulai dari kitab
Fathul Qorib sampai Fathul Mu’in. Atau mulai dari kitab Subul As-Salam sampai
kitab Tafsir wa al-Mufassirun. Ada kalanya suara terbangan hadrah yang karuan
dan tak karuan. Ada juga suara mahasantri yang me-muraja’ah hafalan
Qur’annya. Terkadang akan terdengar lagu-lagu. Baik dilagukan dengan suara
tanpa diiringi musik ataupun lagu-lagu yang diputar dari salah satu aplikasi
android mereka.
“Hmm,
Mar. Lintang ingin bicara ke Mar.” Marfu’ah melepas android setelah sebelumnya
ia khatam surah Yasin tigakali beserta membaca doanya.
“Wew,
ngape, kawan. Ngomong bai lah.”[1]
“Lintang
mohon doanya, Mar. Lintang akan ikut international conference di Universitas
Salatiga. Paper Lintang lulus dan akan diperesentasikan pada event
itu.” yang menyimak hanya berdecak kagum. Kapan dia mengerjakan paper?
Sedang aku melihatnya hanya terus membaca buku sesekali menulis diary, pikir
Marfu’ah.
“Mar
akan selalu mendukung Lintang. Dan akan selalu mendoakan Lintang.”
Keduanya
berpelukan erat. Lintang akan segera menelepon ayahnya di kampung. Marfu’ah pun
akan melakukan hal yang sama. Menelepon ayah ibunya untuk memberi kabar serta
minta turut mendoakan Lintang semoga lancar dan juara di international
conference kali ini.
Ya.
Sebetulnya Marfu’ah dan Lintang tergolong santri yang berprestasi di pesantren
dahulu. Apalagi keduanya lulus di perguruan tinggi negeri dengan beasiswa penuh
dari negara. Marfu’ah memiliki orangtua yang cukup berada sedang Lintang adalah
seorang piatu yang ditinggal mati oleh ibunya sejak masih kecil. Ayahnya bekerja
sebagai staf di salah perpustakaan daerah kota Pangkalpinang. Sedang ayahnya
jika ditanya mengapa tidak mencari pengganti ibu, ayahnya hanya menjawab, ‘kamu
sudah cukup bagi ayah, kenapa ayah harus mencari lagi?’. Darisanalah Lintang
selalu termotivasi untuk cepat menyelesaikan kuliah sarjana satunya kemudian
pulang, hidup berdua dan berbahagia bersama ayah tercintanya. Lantas, motivasi
itu diterapkan dalam timeline hidupnya sehingga target-target yang ada
harus ia capai. Hasilnya, sejak kuliah hingga semester dua ini, IPK-nya
tertinggi satu jurusan dan telah beberapa kali mempresentasikan paper-nya
baik di forum nasional maupun internasional.
Marfu’ah,
seorang remaja putri yang baru saja merayakan umur kepala duanya. Ia keponakan
satu-satu pamannya yang telah sukses di pabrik makanan khas Bangka ternama di
Bangka. Meskipun, ia memiliki keluarga yang berada, hingga saat ini kedua
orangtuanya masih berbagi rezeki antara menabung ongkos haji dan menggaji sebelas
karyawan di pabrik terasi khas Bangka warisan kakeknya itu.
Suatu
malam, Marfu’ah ditawari Lintang sebuah buku. Salah satu subbab buku itu
memberi pembahasan tentang kekayaan yang didapat dari profesi seorang penulis.
Darisanalah ia mengikrarkan diri dalam hati dan di depan sahabat tercintanya,
Lintang, menjadi seorang penulis. Ia ingin menjadi mahasiswa yang kaya dari
menulis. Sehingga ia dapat mengumpulkan uang untuk memberangkatkan haji kedua
orangtuanya.
***
Tiba-tiba
saat Marfu’ah dan Lintang selesai sholat isya berjamaah. Marfu’ah mencolek bahu
Lintang.
“Lintang,
kamu tahu aku suka malas saat membaca buku-buku?” Lintang menoleh sembari
membenarkan kacamata bacanya. Ia tersenyum kepada sahabatnya itu.
“Ia,
Mar. Malas itu normal. Tapi bisa kok diantisipasi, Mar.”
“Caranya?”
“Jawab
dulu pertanyaanku, kenapa Mar malas membaca buku-buku?”
“Buku
itu banyak istilah-istilah sulitnya.
Lalu aku harus membuka kamus tebal atau mencarinya di internet. Belum lagi
kudapati artinya di internet, tak jarang jariku meng-klik yang lain hingga
bukannya melanjutkan membaca buku, aku malah membaca chat grup whatsapp
atau melihat status kawan-kawan.” Lintang menyimak dan sesekali tersenyum geli
melihat ekspresi Marfu’ah saat bercerita pengalamannya membaca buku.
Sesaat
hening. Lintang tengah berpikir respon yang cocok untuk menjawab kegelisahan
sahabatnya ini. Tiba-tiba ia teringat nasehat bu Nyai pondok.
“Mar,
semuanya perlu proses. Dan kita harus mencintai proses itu. Mar kan sudah
menancapkan niat baik, menjadi penulis. Maka itulah prosesnya, Mar. Juga,
jangan lupa. Pekerjaan yang baik itu tidak mudah. Harus melalui beberapa
rintangan. Apalagi niat baik Mar dari keinginan ini adalah memberangkatkan
orangtua haji kan, itu adalah cita-cita yang mulia, Mar. Sungguh. Dan setan
tidak akan membiarkan begitu saja niat baik itu. Terus menggoda. Godaannya
banyak, ada rasa malas, kemewahan dunia ataupun godaan dari lingkungan sekitar.
Maka, kita harus bersabar dan terus berdoa, Mar. Semoga Allah terus kuatkan
kesabaran kita dan menghindarkan diri kita dari godaan setan yang terkutuk.”
Keduanya berpelukan erat lagi. Tanpa sadar, air mata keduanya tumpah ruah.
Mengenang persahabatan mereka sejak SD hingga saat ini, selalu bersama. Suka
dan duka.
“Aku
berterimakasih pada Allah, Lintang. Allah telah anugerahkan kamu untukku.”ucapnya
lirih.
“Lintang
juga Mar. Lintang bersyukur. Allah takdirkan Mar untuk Lintang.”
Malam
itu terasa syahdu. Di langit malaikat tengah melebarkan jubah cahayanya,
menaungi bumi, menaungi dua orang yang saling mencintai karena Allah.
***
Lintang
mengemasi barang-barang bawaannya, siap bertarung di Universitas Salatiga, Jawa
Tengah. Ia akan diantar Marfu’ah ke stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Setelah sowan
ke bu Nyai pondok, keduanya pun berangkat.
Hilir
mudik penumpang dan penjemput nampak ramai di ruang tunggu stasiun.
“Setelah
tiba, langsung kabari aku.”
“Ya,
Mar. Mar semangat terus belajar membaca dan menulisnya.”
“Siap
bos!”
Kereta
akan berangkat, keduanya berpelukan, erat sekali. Pelukan untuk saling
menguatkan. Diam-diam Marfu’ah membara semangatnya. Dalam hati ia berjanji, ‘Ini
kali terakhir aku mengantarmu untuk konferensi, wahai Lintang. Lain kali, kita
titipkan motor di tempat penitipan. Kita pergi berdua saja!’
Sepulangnya
dari stasiun, Marfu’ah langsung mengambil diary-nya. Menumpahkan rasanya
dalam tulisan. Seperti kata-kata Lintang, tulis apa saja yang kamu rasakan dan
ingin luapkan. Suatu saat tulisan itu akan berharga dan berguna. Paling tidak
sebagai bukti, bahwa kamu pernah ada.
Marfu’ah
siap maju. Ia pun akan siap gagal. Dia pikir tidak ada kata terlambat untuk
belajar. Ia pun tahu harus mulai darimana. Dari diri sendiri, dari hati. Jatuh
dan gagal adalah lumrah, bangkit dan lari lagi adalah luar biasa. Proses itu
siap di jalani meskipun berbagai ketakutan berseliweran di benaknya. Takut
tidak ada ide saat menulis, takut jelek tulisannya, takut dicemooh, takut salah
dalam menulis dan berbagai ketakutan dan ketidakpercayaan diri lainnya. Malam
ini gerhana bulan. Ia lambungkan semangat dan kepalan tangannya ke arah bulan
sembari berdoa.
‘Kuatkan
kesabaran untukku, ya Allah.’
Perum. Gowok, Yogyakarta, 18 Januari 2018
Senin, 09 Desember 2019
Maaf
Maaf...
Untuk keadaan yang beberapa tahun terakhir baru kusadari.
Untuk tahun-tahun penuh derita bagimu dan tahun-tahun kesepian bagiku, Aku
minta maaf.
Jika saja aku menerimamu sejak dulu apakah keadaannya akan
seperti ini? Kamu yang mencintainya, sakit
menyertai, katamu. Aku yang tak berdaya dengan kesendirian-kesendirian.
Untuk penyesalan-penyesalan yang beberapa purnama telah
menimpaku, Aku minta maaf. Jelmaanmu di ingatanku akhir-akhir ini seakan
seperti karma untukku.
Sebuah ruang bernama chatting room mempertemukan kita. Di
sela-sela kamu sedang mencintainya dan aku dalam hening menunggu, seutas
kalimat darimu sampai kepadaku, “Jika dulu keras kepalamu mau kamu simpan
sebentar, Apakah aku akan sesakit ini dan kamu tidak hanya menjelma kata-kata?
Bisakah kamu menjadi lebih dari itu? Ketahuilah, aku menyayangi dan masih tetap
sayang padamu.”
Permintaan maaf ini kukira wajar saja tertuju padamu tapi ada yang lebih pantas. Untuk diri sendiri, Aku minta maaf. Sikap keras kepala dulu mengantarku pada jalan lain untuk memahami arti hubungan dua insan. Beberapa sikap juga turut membantu. Seperti tak mudah mengatakan, "Aku jatuh cinta." Dalam perasaan seperti itu, aku berpikir setelahnya. Jatuh cinta yang kusebut dengan ringan dulu itu bertahap terjadinya. Tak sembarang ringan lidah.
Secuil hal yang kupahami dari hatiku, "Kamu berharga, tidak patut kau patahkan hatimu dengan ringan menyatakan, 'Aku jatuh cinta."
Terakhir, maaf dan terimakasih. :)
Yogyakarta, 9 Desember 2019
Minggu, 08 Desember 2019
Andai
Andai kamu bukan milik oranglain saat ini. Mau kubuka
pintu untukmu. Membiarkan rumah ini kamu hiasi dengan canda tawamu. Kamu penuhi
tamannya dengan bunga-bungaan beraneka ragam. Tetap membiarkan kupu-kupu
mengambil madunya.
Andai saat ini kamu sendiri. Mau kuketuk pintu milikmu.
Kutemukan ruang favoritmu disitu. Menatapmu tak henti-hentinya saat kamu
melakukan hobimu. Menyiapkan camilan kesukaanmu. Setelah itu kita ngobrol
hangat berdua. Hanya berdua...
Andai waktu tak secepat berlalu seperti ini. Mau
kuciptakan kebersamaan dan mengadakan pertemuan-pertemuan. Menyimak kisahmu
atau menceritakan kisahku. Membicarakan mimpi-mimpimu. Menyampaikan
angan-anganku. Saat itu, langit-langit ruangan bisu telah penuh harapan kita.
Lantai-lantai telah penuh jejak kaki-kaki kita.
Jika kamu tidak sedang mencintai orang lain. Mau aku
menyayangimu...
Seiring berjalannya waktu, di atas alam bawah sadar kini aku berani mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja menjalani hidup. Seperti apa keadaanku dulu entah itu menerima atau menangguhmu seperti hingga kini tak ada yang perlu kusesali. Perandaian-perandaian itu hanya pemikiran sesaat. Kenyataannya, kamu masih mencintainya dan aku happy dengan kesendirianku sembari memantaskan diri untuk seseorang yang terbaik dari sisi Allah. Suatu hari nanti...
Bantul, 8 Desember 2019
Langganan:
Komentar (Atom)
Mau Main di Sini (Lagi)
Sudah lama tidak kesini. Menyibak benih yang kusemai dahulu kala sekali. Sudah lama tidak kesini. Benihku tak terurus tapi tak ditumbuhi rum...
-
Sudah lama tidak kesini. Menyibak benih yang kusemai dahulu kala sekali. Sudah lama tidak kesini. Benihku tak terurus tapi tak ditumbuhi rum...




